loading...

Orgasme Tanpa Sentuhan, Bisakah ?

Orgasme Tanpa Sentuhan, Bisakah ?

Ini berita gembira untuk 40 persen perempuan yang diam-diam mengeluh tidak mampu mencapai orgasme. Bila Anda tidak berhasil mendapatkannya dari pasangan, ternyata orgasme bisa Anda usahakan sendiri, tanpa bantuan pasangan!


Rahasianya, menurut penelitian, adalah melalui pikiran. Hal ini disimpulkan setelah beberapa tahun lalu peneliti melakukanscanning otak dengan metode MRI untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi pada otak perempuan pada saat orgasme.

"Pusat kesenangan di otak yang dikaitkan dengan orgasme 'menyala' pada perempuan yang meminta dirinya untuk orgasme, dengan cara yang sama pada perempuan yang mencapai orgasme melalui cara yang konvensional (dengan sentuhan)," ujar Dr Barry Komisaruk, penulis The Science Of Orgasm.

"Pusat yang sama tidak menyala ketika perempuan hanya berpura-pura orgasme; ini hanya terlihat ketika orgasme sungguh terjadi," lanjutnya. 

Yang menarik, responden perempuan yang mengikuti uji coba ini semua berusaha membayangkan situasi yang bahagia, namun dengan cara yang berbeda-beda. Misalnya, ada yang mengombinasikan latihan pernafasan dan fantasi. Ada pula yang menggunakan imajinasi dan latihan dasar panggul. 

Dari masalah fantasi saja, terlihat ada sesuatu yang unik. Menurut Dr Komisaruk, ada perempuan yang mengimajinasikan skenario yang erotis, namun ada juga yang mengimajinasikan adegan romantis seperti pasangan yang tengah berbisik mesra pada mereka. Perempuan yang lain menggambarkan pengalaman sensual yang lebih abstrak, seperti berjalan beriringan di pantai atau membayangkan gelombang energi yang bergerak di dalam tubuh mereka.

Kunci untuk mencapai gelombang kenikmatan ini adalah dengan berfokus pada apa yang sedang Anda pikirkan. "Menurut saya, kebanyakan perempuan pasti bisa melakukan hal ini, kalau mereka berlatih dan sangat fokus. Anda harus benar-benar rileks, menutup mata, dan hanya memikirkan apa yang bisa membuat Anda orgasme," ujar Jill Morrison (40), seorang sekretaris legal, yang mengaku kerap mencapai orgasme tanpa sentuhan sang suami.

Ia bahkan tidak selalu membuat suatu fantasi seksual, hanya membayangkan dan "menyuruh" dirinya untuk orgasme sehingga tubuhnya merespons. Semakin sering kita melakukannya, menurutnya semakin baik. Jill merasa lebih mampu mengontrol seksualitasnya sendiri.

Meskipun demikian, dari pengujian para peneliti dan pengalaman perempuan seperti Jill, dapat disimpulkan bahwa seksualitas bagi perempuan lebih rumit dan lebih menguras emosi daripada yang dibayangkan sebelumnya, demikian menurut Profesor Alan Riley, salah satu pakar seks terkenal di Inggris.

"(Untuk berhubungan seks) Ada banyak fokus pada tubuh dan respons fisik kita. Namun bagi banyak orang, dan khususnya perempuan, pikiran memainkan peran yang lebih penting," paparnya.

Hasil penelitian ini juga penting, karena meskipun orgasme adalah pengalaman yang sangat menyenangkan, tetapi memahaminya dengan lebih baik jauh lebih penting. Orgasme pada perempuan, menurut Dr Komisaruk, adalah fenomena yang luar biasa. Saat orgasme, detak jantung perempuan berlipat ganda, sensitivitasnya pada rasa sakit berkurang, aliran darah ke otak meningkat, dan perasaan senang, bahagia, dan cinta juga meningkat.

"Memahami apa yang terjadi dalam otak kita ketika orgasme bisa membantu kita mengembangkan obat-obatan antidepresan dan penghilang rasa sakit yang lebih baik, selain juga meningkatkan kepuasan seksual," ungkapnya. (od)

Kesulitan Orgasme Harus Diatasi
Meski informasi sudah semakin terbuka, edukasi seks masih saja minim, termasuk bagi pasangan suami-istri. Masih banyak masalah seksual pasutri yang tak terungkap. Salah satu masalah yang masih sering dialami adalah kesulitan orgasme pada perempuan. 

Kultur yang menganggap seks tabu dibicarakan menghambat komunikasi pasutri. Akhirnya kebutuhan istri dan suami sulit terpenuhi karena seks dianggap pemenuhan kebutuhan biologis semata. Padahal kepuasan hubungan seksual pasutri mempengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan.

Ketua Asosiasi Seksologi Indonesia Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, SpAnd, FAACS, menjelaskan perempuan dikatakan sulit orgasme jika terjadi dalam sebagian besar hubungan seksual. Jika hanya terjadi sesekali, ini bukan menjadi masalah. 

Bahkan penelitian tahun 2000 menyebutkan bahwa 53 persen perempuan tidak pernah orgasme pada tahun pertama perkawinan. 

Hambatan orgasme dipengaruhi beberapa hal, jelas Prof Wimpie dalam talkshow "Kebahagiaan Seksual Semu Ereksi Sub-Optimal" di Jakarta, beberapa waktu lalu. Di antaranya masalah yang disebabkan oleh pria, serta faktor psikis dan gangguan pada perempuan. 

Masalah pada pria
Ereksi pada pria ada skalanya. Kesulitan ereksi secara optimal akan mempengaruhi kepuasan hubungan seksualnya. Begitupun dengan posisi hubungan seks, yang sebaiknya lebih diperhatikan pasangan, terutama pria. Pria perlu mencari titik peka perempuan dengan variasi posisi agar hubungan seks bisa lebih efektif bagi perempuan.

Psikis perempuan
Hambatan psikis dipengaruhi perjalanan sebelumnya. Trauma masa lalu bisa menimbulkan kesulitan orgasme pada perempuan. Karena itu konseling mengenai psikis perlu dilakukan. Pasutri juga perlu mengkomunikasikan masalah psikis bersama.

Gangguan pada perempuan
Kesulitan orgasme juga perlu ditelisik dari sisi perempuannya. Apakah ada gangguan hormon atau saraf yang mempengaruhi hubungan seksual. 

Bahayanya, banyak pasutri tidak menyadari bahwa masalah ini bisa diatasi. Prof Wimpie mengatakan masih banyak yang mengira masalah seperti ini alamiah. 

Share on :
Seks Sehat

0 comments:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

© 2011 Loverlem blog - Designed by Mukund | ToS | Privacy Policy | Sitemap

About Us | Contact Us | Write For Us