loading...

Cara Deteksi Anoreksia dan Bulimia

Gangguan pola makan rentan terjadi pada wanita.  
Penderita eating disorder atau gangguan pola makan ibarat gunung es. Hanya terdeteksi sedikit, tapi kenyataannya banyak penderitanya. Jika tak segera diatasi dapat memunculkan risiko serius.

Gangguan pola makan pun rentan terjadi pada wanita. Ini disebabkan karena faktor psikologis dan biologis--keterlibatan sistem dan zat tertentu dalam otak--. Simak beberapa perbedaan gangguan pola makan berikut ini:

1. Binge eating disorder.

Mereka yang mengalami gangguan ini cenderung makan lebih banyak dan cepat daripada orang normal. Sayangnya, apa yang mereka konsumsi tak akan nyaman di perut. Artinya mereka hanya lapar mata--makan dalam jumlah banyak meskipun tak lapar-- sehingga mereka cenderung makan sembunyi-sembunyi. Namun usai makan, umumnya mereka merasa bersalah dan berujung pada depresi pada diri sendiri.

Karakter individu yang rentan akan binge eating adalah orang yang impulsif (tidak berpikir sebelum bertindak), memiliki kontrol diri rendah, serta memiliki pemikiran obsesif mengenai makanan. Cara pendeteksiannya dengan melihat berat badan yang cenderung berfluktuasi, moody atau hilangnya minat makan seketika, serta merasa tak puas dengan bentuk tubuh.

2. Bulimia.

Kondisi ini hampir sama dengan binge eating. Perbedaannya kalau binge eating belum tentu bumilia. Namun kalau bulimia sudah pasti mengalami binge eating. Mereka yang menderita ini umumnya banyak dipicu oleh suasana hati negatif, seperti mengkritik diri sendiri soal berat dan bentuk tubuh, serta memiliki masalah emosional atau fokus kontrol diri kacau.

Bulimia juga memiliki kecenderungan memuntahkan makanan kembali dengan merogoh mulut menggunakan jari tangan. Dapat pula menggunakan obat-obatan (pencahar) dan tindakan ini disebut dengan purging. Selain itu, tindakan non-purging dengan berpuasa dan olahraga berlebihan.

"Hampir 90 persen orang melakukan purging karena dianggap sebagai jalur tercepat mengeluarkan kembali makanan yang masuk," kata Psikolog Tara de Thouars, saat ditemui di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Mereka yang rentan terhadap bulimia adalah memiliki kecenderungan impulsif, suasana hati yang tak stabil atau mudah merasa bosan, serta memiliki masalah personal--merasa penampilan adalah segalanya untuk meningkatkan harga diri--.

Cara mendeteksi seseorang yang mengalami bulimia dapat dilihat dari dua faktor, yaitu:

- Perilaku:

· Usai makan sering kali pergi ke kamar mandi.
· Merasa bersalah dan malu setelah makan.
· Olahraga berlebihan.
· Depresi dan rendah diri.
· Cenderung menyembunyikan makanan atau saat makan.
· Kontrol diri rendah (lepas kontrol saat makan)
· Terobesi akan penampilan tubuh.

- Fisik :

· Sering terjadi perubahan pada berat badan.
· Otot melemah dan mudah capai.
· Mengalami keluhan sakit di bagian perut.
· Konstipasi dapat pula diare.
· Menstruasi tak teratur.
· Pembengkakan pada pipi dan leher.
· Sakit tenggorokan.
· Gigi terlihat terkikis.
· Wajah terlihat merah.

3. Anoreksia nervosa.

Menurut Tara, ini merupakan gangguan makan yang dikategorikan pada perilaku diet atau olahraga berlebihan demi mengurangi berat badan. Anoreksia nervosa ini kebalikan dari bulimia, artinya ada penolakan dari dalam diri untuk mempertahankan berat badan normal (kontrol diri tinggi).

Seseorang dengan anoreksia tak pernah merasa dirinya cukup langsing, terus melihat tubuhnya gemuk, meskipun telah berhasil menurunkan berat badan secara ekstrem. Hal ini dapat berujung pada ketidaktepatan menilai bentuk dan ukuran tubuh atau disebut dengan distorted body image.

Jika Anda seorang yang selalu menuntut kesempurnaan, terutup, memiliki cara berpikir obsesif, terfokus pada kontrol diri, serta sangat peduli pada penilaian orang lain, bisa jadi Anda termasuk orang yang rentan pada anoreksia. Selain itu, anoreksia juga cenderung menjauhi cermin, karena dapat menimbulkan stres.

Berikut cara melihat atau mendeteksi seseorang mengalami anoreksia.

- Fisik:

· Penurunan berat badan tak sehat.
· Mengalami keluhan sakit perut, sakit kepala, pusing, dan tak enak badan.
· Konstipasi.
· Otot melemah dan menghilang.
· Absensi menstruasi.
· Rambut rontok.
· Kuku menjadi rapuh.
· Kulit terlihat kering dan kusam.

- Perilaku:

· Makan dengan porsi yang sangat sedikit bahkan cenderung menolak makanan.
· Sering merasa tak lapar.
· Menghindari lemak, gula, dan daging.
· Merasa gemuk setelah makan meski makan dengan porsi kecil.
· Merasa gemuk meski kurus.
· Menghindar dari teman bahkan keluarga.
· Rendah diri dan depresi.
· Mengutamakan kesempurnaan.
· Kebiasaan makan yang tak normal.
Share on :
Kesehatan

0 comments:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

© 2011 Loverlem blog - Designed by Mukund | ToS | Privacy Policy | Sitemap

About Us | Contact Us | Write For Us